Search
Search
Close this search box.
Kertas Apa Itu?

Tiga gadis kecil yang senang bermain dan berpetualang di desa yang mereka tinggali, hampir semua wilayah di sekitar desa sudah mereka jelajahi dan dikunjungi. Tak lelah lelah mereka berpetualang, energi mereka tidak cepat habis, bahkan pernah mereka sampai dicari satu desa akibat main terlalu malam, kalau nggak Mia, Vivi, dan Lea siapa lagi anak yang begitu?

Gelap malam telah berlalu, diganti dengan tibanya hangat di pagi hari, belum apa-apa Vivi bergegas sarapan telur buatan ibunya dan mandi lalu langsung pergi menghampiri rumah Mia pagi itu, Lea juga sama ia terbangun dari ranjangnya makan dan mandi lalu langsung pergi ke rumah Mia. Sesampainya di rumah Mia.

Tok! Tok!

“Mia! Mia! Ayo kita main lagiii!” teriak Lea sambil mengetuk pintu rumah Mia.

“Iya Mia, kita kan hari ini mau petualangan hehe..” ucap Vivi.

Tak lama pintu rumah Mia terbuka dan terlihat Mia sudah siap dengan topi merahnya,

“Hohoho, mau kemana kita sekarang?” tanya Mia bersemangat

“Hmm, bagaimana kalau kita ke hutan dekat kampung ini aja gimana? Kita belum pernah ke sana loh!” Kata Vivi sambil menunjuk hutan yang dimaksud.

“Hum, boleh juga tuh!” kata Mia.

“Wah aku penasaran di dalam isi hutan itu, ke sana yuk!” ucap Lea.

‘’Ayoo kita mulai petualangan hari iniii!” kata Mia dan dia langsung berjalan di depan layaknya pemimpin.

Desa mereka terkenal asri dan sejuk, warga nya pun senang bergotong-royong dan saling membantu. Mereka bertiga melewati dedaunan hijau, pepohonan yang tinggi, tanaman-tanaman kecil yang berwarna-warni. Mereka berjalan dengan riang gembira, bernyanyi-nyanyi layaknya anak kecil pada umumnya, bercanda tawa, dan mereka senang sekali menyapa warga-warga sekitar.

Tap, tap, suara langkah kaki mereka telah berhenti, rupanya mereka sudah sampai di hutan itu.

“Wah hutannya indah ya!” kata Lea.

“Sejuk sekali! Aku jadi ingin tidur di sini..” ucap Mia.

“Lihat tuh ada belalang!” tunjuk Lea.

Mereka bertiga terlihat menikmati waktu bermainnya di sana, tiba-tiba ada sesuatu tak terduga yang dilihat oleh Vivi.

“Hah, botol apa itu yang mengkilat di selip semak-semak?” kata Vivi, ia lalu perlahan menuju semak-semak tersebut.

“Hmm, sepertinya ini ada isinya deh..” ucap Vivi sambil memutar-mutar botol tersebut.

“VIVI!” ucap Mia yang mengagetkan Vivi dari belakang

“Hua! Mia! Kaget ih!” Kata Vivi.

“Habis kamu diem aja aku panggil dari tadi, ngapain sih kamu? Dan itu apa?” tanya Mia.

“Hehe, aku nemu di semak-semak tapi nggak tau ini tuh botol apa, kayaknya ada isinya..” kata Vivi.

Tak lama Lea datang dan ikut nimbrung.

“Coba sini aku buka!” kata Mia.

Vivi memberikan botol itu ke Mia dan Mia pun langsung membuka tutup botol tersebut. Rupanya ada kertas di dalam botol itu,

“Kertas apa ini?” tanya Mia.

“Terlihat seperti… Peta harta karun!” kata Lea.

“Iya ya kok mirip yah..” kata Vivi.

“Ah kalian ini kebanyakan nonton film deh!” ucap Mia menahan tawa.

“Ternyata ini peta wilayah hutan ini dan ini seperti melakukan misi pencarian sesuatu!” ucap Lea.

“Iya, tapi bagian kertas selanjutnya sobek kita jadi tidak tahu tujuan akhirnya dimana..” ucap Vivi.

“Mungkin kita disuruh cari sendiri, ini kan petualangan kata Mia.

“Gimana kalau kita jelajah hutan ini dan mencari sesuatu dari peta ini, mau nggak?” kata Mia.

“Aku setuju!” kata Vivi dan Lea bersamaan

Mereka bertiga pun mulai berjelajah sesuai arah yang ditentukan peta tersebut, hal pertama sesuai peta itu ialah melewati jalanan berbatu dan setelah itu belok kiri. Terlihat Mia sangat cepat sekali melewati jalanan berbatu itu, dua temannya itu agak lama karena mereka kesusahan, Mia sabar menunggu.

Perjalanan kedua, mereka disuruh membuat kalung yang berbahan bunga dan mencari bunga di sekitar tanaman dan semak-semak.

“Aku paling senang kalau di suruh berkreasi seperti ini!” ucap Lea.

“Ajari kami Lea, ini susah nalinya!” ucap Mia.

Mereka berdua diajari oleh Lea dan mereka semua pun saling membantu. Tak lama kalung sudah jadi, mereka langsung memakainya dan melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Perjalanan ke tiga, Ternyata ada sungai kecil dan kayu besar, mereka harus melewati sungai kecil itu dan menyeberanginya. Sungai nya begitu deras tetapi tidak dalam, banyak ikan-ikan berenang di sana. Mia berjalan diikuti dua temannya itu, Mia menjaga keseimbangannya dengan merentangkan kedua tangannya, Lea yang hampir jatuh dan ia berjalan sangat pelan dan hati-hati, Vivi juga berjalan seperti biasa.

Setelah melewati itu, mereka berjalan cukup lama, di perjalanan mereka melihat binatang-binatang kesana-kemari. Burung-burung berkicau, jangkrik di mana-mana, kumbang di sela-sela dedaunan, kupu-kupu yang terbang di bunga warna-warni.

“Ah aku suka deh hutan ini!” kata Lea.

“Iya, kita sering-sering ke sini ya kalau main pasti seru!” ucap Mia.

“Di sini enak, aku bisa lihat pohon-pohon hijau yang tinggi!” kata Vivi.

Tak lama setelah mereka berbincang, selanjutnya mereka disuruh melewati jalanan berlumpur tak jauh dari sana. Mereka memasuki kaki dan mulai berjalan, kaki mereka susah diangkat dan becek sekali, namun mereka tetap berusaha. Setelah melewati, ada perairan di samping pohon, mereka sempat cuci kaki di sana dan baru melanjutkan perjalanan.

Di perjalanan keempat, mereka melewati jalanan yang ditutupi rumput dan semak-semak tinggi yang harus dilewati. Mereka kesusahan karena badan mereka kecil dan rumput-rumput itu terlalu tinggi, mereka akhirnya melewati dengan cara bergandengan dan berjalan bersama. Terlihat tubuh mereka penuh dedaunan setelah melewati jalan tadi.

“Capek aku..” kata Vivi.

“Harus semangat dong Vi!” kata Mia.

‘’Kalau di peta, setelah ini.. Loh? Oh iya kertas nya kan sobek, kita jadi tidak tahu setelah ini kita menuju kemana..” ucap Lea.

“Bagaimana Mia?” tanya Lea

‘’Hmm’’ Mia terlihat melirik-lirik dan memperhatikan sekeliling, Mia melihat sesuatu.

“Ah di situ ada rumah kecil rumahnya!” kata Mia.

“Bagaimana kalau kita ke sana saja” ajak Mia.

“Memangnya boleh?” tanya Vivi

“Boleh-boleh saja, kita coba saja dulu!’’ kata Mia

Mereka mulai berjalan menuju rumah kecil itu dan akhirnya sampai ke rumah itu.

Tok! Tok! Tok! Suara ketukkan pintu yang diketuk oleh Mia,

“Permisi, apa ada orang?” ucap Mia

“Masuk saja, pintu nhya tidak dikunci!” terdengar suara seseorang dari dalam rumah itu.

“Loh, kenapa suara orang yang di dalam itu seperti suara kakek ya?” kata Mia.

“Iya Mia, itu seperti suara kakek mu kan!” ucap Vivi.

“Kita masuk saja untuk memastikan!” kata Lea.

Mereka pun masuk ke rumah itu dan ternyata benar, rupanya kakek Mia sedang duduk di kursi tak jauh dari pintu rumah itu.

“Loh kakek? Kakek kok disini?” tanya Mia

“Hahaha kakek habis membuat peta yang kamu pegang itu..” ucap Kakek.

“Hah? Rupanya kakek yang buat peta ini?” ucap Mereka bertiga.

“Iya, ini sobekkan kertasnya, perjalanan selanjutnya itu ke sini, kalian sudah benar!” ucap Kakek.

“Wih aku benar!” ucap Mia senang.

“Hahaha, kalian terlihat lelah. Sebagai hadiah ini Kakek beri es krim untuk kalian, dimakan ya!” kata Kakek sambil mengeluarkan bungkus es krim dari plastik besar.

“Hore! Terima kasih kek!” ucap Mereka.

“Petualangan kali ini menjadi petualanganku yang tak terlupakan buat ku!” ucap Lea.

“Iya aku hari ini senang sekali!” kata Vivi.

“Terima kasih Kakek sudah membuat permainan seru untuk kita!” kata Mia.

Kakek tersenyum, mereka menikmati es krim setelah lelah berpetualangan tadi. Manisnya es krim yang mereka makan membuat mereka jadi tidak lelah dan kembali ceria. 

Dibalik indahnya persahabatan Mia, Vivi dan Lea ternyata tak jauh dari rasa bersama, saling menolong, dan melengkapi sesama. Nilai itu sangat penting untuk menjalin hubungan persahabatan yang erat dan menciptakan pertemanan yang harmonis.

-TAMAT-

Karya: Shifa Almira Kusuma (8D)

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait